Seni grafis
SENI GRAFIS
Pengertian Seni Grafis
Cabang seni yang satu ini adalah karya seni rupa dua dimensi yang cara pembuatannya harus melalui sebuah proses yang disebut dengan proses teknik cetak. Istilah grafis sendiri terbentuk dari bahasa asing yaitu bahasa Inggris dari kata “graphic” atau “graph” yang berarti dapat berarti tulisan, gambar, atau lukisan dengan cara di toreh atau di gores.
Grafis juga dapat diartikan sebagai gambaran yang nyata, meskipun begitu seni ini membutuhkan medium. Sedangkan untuk mediumnya bisa terbuat dari apa saja seperti kanvas, papan, dan sebagainya. Seni ini merupakan kategori seni rupa dua dimensi.
Sejarah Seni Grafis Masuk ke Indonesia
Pada awalnya seni ini lebih popular dan mengalami banyak kemajuan di negara China. Hal ini karena cabang seni yang satu ini ikut terlibat dalam unsur keagamaan dan digunakan untuk menggandakan tulisan-tulisan keagamaan. Tulisan tersebut diukir pada sebuah bidang papa1n yang berbahan kayu serta di cetak diatas kertas.
Sumber : "https://elizato.com/pengertian-dan-jenis-seni-grafis/"
Teknik Cetak Dalam Seni Grafis
1. Cetak Dalam (Intaglio)
Cetak dalam adalah salah satu teknik mencetak dalam seni grafis yang menggunakan media pelat logam seperti aluminium, tembaga dan seng. Tekniknya yaitu dengan menggores permukaan pelat menggunakan alat tajam. Dengan begitu akan menghasilkan goresan yang dalam. Seni grafis cetak dalam atau Intaglio dibagi menjadi 4 bagian seperti Engraving, Etsa (Etching), Mezzotint dan Drypoint.
2. Engraving
Engraving adalah teknik cetak dalam yang dikembangkan pada tahun 1430 di Jerman. Pada saat itu teknik Engraving atau ukiran halus dipraktekan oleh para tukang emas untuk membuat dekorasi pada karyanya. Melakukan teknik Engraving tidaklah mudah karena harus menggunakan alat yang terbuat dari logam yang diperkeras bernama Burin.
Alat ini memiliki bentuk seperti jamur dimana pada ujungnya terdapat logam keras yang runcing. Ada berbagai macam ukuran pada ujung Burin. Perbedaan ukuran tersebut akan menghasilkan lebar dan kedalaman garis yang berbeda saat Burin digunakan. Setelah selesai mengukir logam, langkah selanjutnya adalah memberikan tinta pada seluruh permukaan pelat. Kemudian pelat di tekan ke sebuah kertas, maka garis yang ada akan membentuk pola sama pada kertas tersebut dengan tampilan terbalik (Mirror Print).
3. Etsa (Etching)
Etsa atau Etching adalah teknik cetak dalam yang ditemukan oleh Daniel Hopfer di Augsburg, Jerman sekitar tahun 1470-1536. Pada saat itu Daniel menggunakan teknik Etsa pada baju besinya. Teknik Etsa pun jadi populer dikarenakan dalam melakukan teknik Etsa tidak memerlukan keterampilan dalam dunia pertukangan logam. Hasil dari teknik Etsa adalah memiliki detail serta kontur garis halus sampai kasar dan bersifat linear.
Proses awal teknik Etsa, yaitu pelat logam seperti seng, tembaga dan baja ditutup dengan lapisan lilin. Langkah selanjutnya menggores bagian logam hingga terbuka dan mencelupkan atau memberikan logam larutan asam nitrat. Hasilnya bagian logam yang terbuka atau tidak terlapisi akan terkikis larutan asam nitrat. Kemudian logam dibersihkan dan masuk ke proses pencetakan sama seperti teknik Engraving.
4. Mezzotint
Mezzotint adalah teknik mencetak dalam seni grafis yang ditemukan oleh Ludwig von Siegen pada sekitar tahun 1609-1680. Kemudian populer di Inggris pada abad 18 dalam memproduksi lukisan dan foto. Mezzotint merupakan salah satu teknik Intaglio yang juga berfokus pada bahan pelat logam. Awalnya permukaan pada pelat logam dibuat kasar seluruhnya. Kemudian melakukan penggoresan halus pada permukaan logam yang akan menghasilkan gambar dari gelap ke terang atau gradasi warna hitam putih.
5. Drypoint
Drypoint adalah teknik cetak seni grafis yang mirip dengan Engraving. Teknik ini ditemukan oleh seniman Jerman Selatan yang terkenal dengan julukan Housebook Master pada abad 15. Berbeda dengan Engraving yang memiliki garis yang halus serta bertepi tajam, Drypoint lebih menghasilkan bentuk kasar pada tepi garis. Hal ini dikarenakan untuk teknik Drypoint tidak menggunakan Burin berbentuk V untuk menggores.
Pada saat itu teknik Drypoint umumnya digunakan untuk mencetak dalam jumlah yang terbatas dikarenakan tekanan pada pelat mampu membuat kualitas garis menjadi menurun (Buram). Tapi pada abad 19 telah ditemukan cara untuk melakukan pelapisan logam secara elektrik yang mampu mengeraskan permukaan pelat dengan teknik Drypoint.
6. Cetak Saring (Silkscreen)
Cetak saring adalah teknik cetak yang memanfaatkan kasa atau biasa disebut dengan Screen yang dipasangkan pada sebuah rangka. Cetak saring paling dikenal dengan sebutan cetak sablon dan biasa dipraktekan untuk membuat cetakan untuk permukaan data seperti spanduk, kaos, stiker, poster dan kebutuhan lainnya. Kasa pada cetak saring umumnya memiliki sifat lentur dan halus.
7. Cetak Tinggi (Cetak Timbul)
Cetak tinggi atau cetak timbul adalah teknik untuk membuat acuan cetak dengan membentuk gambar atau pola pada permukaan media cetak dengan bentuk timbul. Teknik cetak dalam seni grafis ini bisa dibilang paling mudah, karena tidak membutuhkan peralatan khusus atau teknologi canggih. Cetak tinggi memiliki bentuk serupa dengan ukuran atau relief. Maka dari itu cetak tinggi atau cetak timbul sering juga disebut cetak relief.
8. Cetak Datar (Lithography)
Cetak datar atau Litografi adalah salah satu teknik mencetak dalam seni grafis yang ditemukan oleh Alois Senefelder pada tahun 1798. Lithography berasal dari bahasa Yunani, yaitu Lithos yang artinya batu dan Graphien yang artinya menulis. Hal ini dikarenakan teknik cetak data menggunakan lempengan batu kapur. Media batu kapur dipakai karena dapat menyimpan tinta minyak.
Sumber : https://www.makintahu.com/memahami-berbagai-teknik-mencetak-dalam-seni-grafis/
Contoh karya seni grafis :
- Fotographi
- Percetakan baju
- Kaligrafi
- Cetak timbul
- Relief
Sumber :https://dosen.co.id/viskositas/
Pameran Seni Grafis
Kamis, 03 Mei 2018 | Bentara Budaya Yogyakarta | 19.30 WIB
Pembukaan Pameran: Kamis, 3 Mei 2018 | Pukul 19.30 WIB
Workshop: Relief Print Linocut | Senin, 7 Mei 2018 pukul 15.00 WIB
Pameran berlangsung: 3 - 11 Mei 2018 | Jam buka 09.00 – 21.00 WIB
Adalah sebuah pameran dan rekam jejak dalam rentang waktu 17 tahun berkomunitas dan kerja bersama dalam studio Grafis Minggiran, baik dari sisi teknik maupun wacana. Pameran ini bertujuan untuk menampilkan karya-karya terkini dengan beragam capaian dari setiap member Studio Grafis Minggiran yang beranggotakan Alfin Agnuba, Deni Rahman, Rully Putra Adi, Danang Hadi P., Lulus Boli, A. Nawangseto, Arya Jalu, Maryanto, Aziz Mugni, Theresia Agustina S., ditambah artist in residency. (deni Rahman).
Sumber : www.bentarabudaya.com/detail-acara/pameran-seni-grafis

Komentar
Posting Komentar